Tana Toraja, Wisata Budaya

Perjalanan ke Tana Toraja dimulai dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, sebagai gerbang menuju ke Sulawesi Selatan.

Kabupaten Tana Toraja, dengan ibu kota kabupatennya Makale. Mayoritas Suku Toraja adalah beragama Kristen (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja).

Dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke Tana Toraja bisa di tempuh dengan udara dan darat.

Perjalanan dengan Udara hanya di tempuh sekitar 50 menit, tetapi jadwal penerbangan hanya di hari-hari tertentu.

Perjalanan darat dari Makassar ke Tana Toraja (Rantepao) ditempuh selama 8 – 9 jam berkendara.

Kita sewa mobil, karena jadwal Bus dari Makassar ke Rantepao juga kebanyakan di malam hari.

Tiba di bandara Sultan Hasanuddin Makassar, bandara International dengan konsep baru.

Perjalanan dari Makassar ke Rantepao melewati jalan Trans Sulawesi, melalui pesisir Pantai Barat Sulawesi, dan pegunungan Enrekang.

Setelah berkendara kurang lebih 6 jam, akan melewati Pegunungan Enrekang, dan sempatkan untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan tepian gunung yang sangat indah, apalagi sambil menikmati Indomie hangat dan Fresh tea dingin.. (y)

Setelah perjalanan selama 8 – 9 jam perjalanan, kita sampai di Rantepao. Karena sudah malam dan kecapaian kita nginap di Hotel Madarana. cukup lah untuk tempat beristirahat, kondisi Hotel bergaya rumah adat Toraja (=Tongkonan).

Tongkonan, kebanyakan dari yang kita temui, dihiasi dengan kepala kerbau, baik kerbau biasa (hitam), maupun kerbau belang/albino (= Tedong Bonga).

dan ukiran kayu yang disebutnya Pa’ssura, ukiran kayu ini juga merupakan perwujudan budaya Toraja.

Wisata di Tana Toraja cukup banyak..diantaranya : Buntu Pune (rumah adat kuno), Lemo (kuburan batu), Londa (kuburan gua), Kete Kesu (rumah tradisional, juga ada kuburan gua), Batutumonga (pemandangan alam), Lokomata (kuburan batu), Sangalla (kuburan bayi), Bori (batu megalitikum), dll.

Kunjungan ke obyek wisata bisa dilakukan dengan kendaraan khas di Rantepao yang disebut Bemo (becak motor).

Tetapi kita lebih memilih sewa motor ke pegawai hotel sehingga bisa menikmati lebih bebas seharian.

Pagi-pagi kita berangkat dengan tekat untuk wisata di Tana Toraja, sekalian melihat budaya nya.

Rute pertama yang saya pilih adalah Buntu Pune, dimana ada disitu ada Tongkonan yang berusia mungkin sudah ratusan tahun.

Ada 2 Tongkonan dan 6 Alang (lumbung padi) yang juga mirip Tongkonan. Usianya sudah ratusan tahun dan sempat di pugar supaya tidak rusak.

Untuk masuk ke Buntu Pune, tidak dikenakan biaya, alias gratis.. karena memang tidak ada penjaga nya.. hanya seekor kerbau yang kami ketemui menjaga area Buntu Pune.

Di sekitar Buntu Pune, kita melihat Tongkonan yang sedang di buat..

Sambil bertanya ke penduduk sekitar (penduduk asli Toraja), dijelaskan bahwa pembuatan Tongkonan ini memerlukan waktu 4 bulan, dari proses pertama kali sampai selesai lengkap dengan ukirannya.

Setelah dari Buntu Pune, berjarak sekitar 2 KM kita ke arah Kete Kesu, obyek wisata yang sangat indah dengan Tongkonan-nya.

Untuk memasuki obyek Kete Kesu ini, pengunjung tinggal mengisi nama, alamat sekaligus membayar uang masuk sukarela.

Hampir di setiap tiang bagian depan Tongkonan, dihiasi dengan tanduk-tanduk kerbau, juga tulang gigi kerbau..

Tanduk kerbau tersebut menunjukan banyaknya kerbau yang sudah dikurbankan oleh keluarga dalam upacara pemakaman.

Di Kete Kesu ini juga kita bisa belanja souvenir khas Toraja yang berupa ukiran, hiasan dinding, yang dikerjakan sendiri oleh penduduk disekitar Kete Kesu.

Sekitar beberapa meter di belakang Kete Kesu terdapat situs kuburan, baik kuburan di gua, maupun di dinding tebingnya. Banyak tengkorak dan tulang-tulang yang masih tampak orisinil bersama peti nya.

Peti mati yang dikuburkan di dinding tebing, bagaimana cara menaikkan peti mati tersebut..? cukup rumit.. tetapi semakin tinggi, menunjukan derajat/strata sosial dari yang meninggal lebih tinggi.

Setelah dari Kete Kesu, perjalanan kita lanjutkan ke Obyek Wisata Londa (kuburan gua), jarak memang tidak terlalu jauh, di tempuh dengan sepeda motor hanya sekitaran 30 menit. Petunjuk untuk memasuki obyek wisata tersebut juga ada..

Masuk obyek ini dengan membayar Rp. 5.000 per orang, dan untuk dapat memasuki Gua nya, harus dengan menyewa lampu penerangan Lampu Petromak dengan biaya Rp. 25.000, sekaligus sebagai pemandu.

Di area Londa, pertama kali saya lihat kerbau albino yang mereka sebut Tedong Bonga (= kerbau belang), kerbau ini sangat mahal, bisa seharga RP. 300 juta atau lebih. dan di pakai dalam upacara Rambu Solo (mengantar arwah ke Nirwana).

Gua Londa ini memiliki 2 pintu, yang sebenarnya saling terhubung, dalam Gua tersebut biasanya dimakamkan satu marga.

Di pintu masuk gua, bagian atas terlihat boneka-boneka yang merupakan perwujudan/tiruan dari orang Toraja yang sudah meninggal dan itu disebut Tau Tau.

Peti mati juga terlihat di dinding-dinding di gua Londa ini.

Di gua ini peti mati disemayamkan, biasanya dalam satu keluarga peti mati di tempatkan berdekatan/bertumpukan.

Gua ini masih di pergunakan, krn terlihat ada peti mati yang baru dimasukan di tahun 2010.

Masuk ke dalam gua yang berisi puluhan mayat ini sama sekali tidak tercium bau, padahal ada beberapa peti mati yang terbuka, dan setelah difoto, terlihat bahwa jasad sedang dalam proses menjadi bangkai. (amati dengan klik gambar dan perbesar)

Setelah di Londa, perjalan berikutnya adalah menuju obeyk wisata Lemo (kuburan batu). Cuaca sangat cerah dan mendukung untuk perjalanan dengan sepeda motor.

Lemo ini merupakan kuburan di batu/dinding batu.. batu di bukit-bukit di buat lubang seperti Gua dan berpintu, dan di jadikan kubur batu.

Wisata di Tana Toraja ini cukup terkenal di luar negeri.. terbukti dengan cukup banyak wisatawan dari luar negri yang tertarik untuk mengunjungi Tana Toraja.. dan mereka tahu dari teman-temannya.

Dari Lemo, perjalanan kita berikutnya adalah ke Batutumonga, perjalanan ini kembali lagi ke arah Rantepao. Obyek wisata di Batutumonga adalah pemandangan alam, melihat Tana Toraja dari ketinggian, sepanjang perjalan  banyak batu-batu besar, dan diantaranya menjadi kubur batu juga.

Untuk mencapai Batutumonga resort, dengan bersepeda motor ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.. selain karena perjalanan yang nanjak, juga karena banyak kerusakan jalan, walau sepanjang perjalanan banyak hamparan pemandangan yang indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Batutumonga ini serasa seperti negri di atas awan.. pemandangan yang indah dari ketinggian..

Dari Batutumonga perjalanan kita selanjutnya ke Situs Purbakala Bori yang merupakan Situs dengan batu megalithikum yang berusian ratusan tahun. Batu-batu tertancap di tanah mirip Stonehenge di Wiltsire, Inggris. Batu ini mungkin di gunakan sebagai pemujaan, tetapi info yang kita dapatkan dari penunggu situs ini bahwa batu ini merupakan penghormatan untuk orang tua mereka yang sudah meninggal.

Dilihat dari permukaan batunya.. cukup banyak batu yang berjamur.. beberapa tampak batunya unik seperti bekas pahatan.

Dari beberapa batuan besar terdapat 2 buah batu kecil yang menempel, yang sampai sekarang masih merupakan misteri.

 

Perjalanan ke Toraja diakhiri di Bori ini… selanjutnya kita kembali ke Makassar.

Perjalanan Toraja – Makassar dengan bus malam yang berangkat jam 21.00, dan sampai di Makassar jam 05.00.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s